Text
A Nuclear Refrain; Emotion, Empire, and the Democratic Potential of Protest
"A Nuclear Refrain" adalah fiksi spasial yang mengkritik kebijakan penangkalan nuklir, konsep Saling Menjamin Kehancuran, dan keputusan Inggris untuk mengganti kapal selam Vanguard-nya, yang disebut penggantian Trident. Kami menantang keputusan itu dengan memperluas imajinasi geografis kami ke masa lalu, sekarang, dan masa depan. Memperhatikan keberatan ekonomi, moral, dan strategis yang lebih umum terhadap Trident dan penggantinya, "A Nuclear Refrain" mempertimbangkan masalah dari perspektif yang kurang dikenal: emosional dan terwujud, kekaisaran dan kemapanan, serta dampaknya terhadap potensi demokratis. Berlatar belakang partisipasi berkelanjutan para penulis dalam protes publik ekstensif menentang keputusan Inggris untuk mengganti Trident pada tahun 2016, "A Nuclear Refrain" mengganggu bentuk penulisan akademis dan kebijakan yang sudah dikenal. Ini adalah "hibrida yang tidak nyaman antara akademisi dan fiksi," yang bertujuan untuk membuat pembaca tidak nyaman untuk memacu penemuan kembali radikal dunia yang sangat dibentuk oleh ancaman senjata nuklir. Terinspirasi oleh penulis dan kritikus sosial Charles Dickens, buku ini mengambil bentuk "A Christmas Carol". Diangkut oleh "hantu" masa lalu, sekarang, dan masa depan nuklir, seorang pembuat kebijakan Inggris pro-Trident, Yang Terhormat Roger C. Bezeeneos, persepsinya sangat tertantang. Tetapi akankah Roger membiarkan perasaannya memengaruhi pengambilan keputusannya? Akankah dia mengenali kerinduan akan kekaisaran yang hilang yang menggerakkan kemapanan Inggris? Dan akankah dia mengakui pembatasan partisipasi politik yang ditentukan oleh komitmen terhadap penangkalan nuklir? Terserah Anda, Roger. ;;; "A Nuclear Refrain" adalah sebuah eksperimen literatur yang radikal, menggunakan format fiksi spasial untuk membongkar kebijakan penangkalan nuklir Inggris (Trident). Dengan mengadaptasi struktur klasik A Christmas Carol karya Charles Dickens, buku ini melakukan kritik tajam melalui perjalanan imajiner seorang pembuat kebijakan melintasi dimensi waktu—masa lalu, sekarang, dan masa depan. Poin-poin kunci kesimpulannya meliputi: 1. Hibrida Akademik-Fiksi: Karya ini sengaja mengaburkan batas antara analisis kebijakan yang kaku dengan narasi fiksi untuk menciptakan ketidaknyamanan pembaca, guna memacu pemikiran kritis yang lebih dalam. 2. Kritik Melampaui Strategi: Penulis tidak hanya menyerang aspek ekonomi dan keamanan, tetapi juga membongkar akar masalah yang jarang dibahas: nostalgia kekaisaran Inggris dan bagaimana ketergantungan pada nuklir sebenarnya menghambat potensi demokratis. 3. Urgensi Perubahan Moral: Melalui karakter Roger C. Bezeeneos, kesimpulan utamanya adalah bahwa keputusan kebijakan nuklir bukan sekadar angka strategis, melainkan masalah emosional, etika, dan warisan kolonial yang harus dipertanggungjawabkan secara personal dan publik. Singkatnya, buku ini menyimpulkan bahwa untuk menghentikan ancaman kehancuran nuklir, masyarakat dan pembuat kebijakan harus berani memperluas "imajinasi geografis" mereka dan melepaskan diri dari hantu-hantu masa lalu imperialis.
No copy data
No other version available