Text
A Poetic History of the Oceans; Literature and Maritime Modernity
Apa peran samudra dalam sejarah manusia dan planet?. Bagaimana para penulis, pelaut, pelukis, ilmuwan, sejarawan, dan filsuf dari berbagai waktu dan tempat secara puitis membayangkan samudra dan menggambarkan keterikatan manusia dengan laut?. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Søren Frank membahas berbagai materi yang mengesankan dalam A Poetic History of the Oceans: teks-teks Yunani, Romawi, dan Alkitab, Saga Islandia, drama Shakespeare, buku harian Jens Munk, penulis abad ke-19 seperti James Fenimore Cooper, Herman Melville, Jules Michelet, Victor Hugo, Jules Verne, Jonas Lie, dan Joseph Conrad serta pewaris mereka di abad ke-20 dan ke-21 seperti J. G. Ballard, Jens Bjørneboe, dan Siri Ranva Hjelm Jacobsen. A Poetic History of the Oceans mempromosikan apa yang Frank sebut sebagai sastra komparatif amfibi dan memobilisasi konsep teoretis dan perkembangan metodologis terbaru dalam Blue Humanities, Blue Ecology, dan New Materialism untuk memberikan pencerahan baru pada teks-teks terkenal dan memperkenalkan pembaca pada keterlibatan sastra Skandinavia yang penting, tetapi kurang dikenal dengan laut. ;;; Buku ini menyimpulkan bahwa samudra bukan sekadar ruang geografis atau sumber daya alam, melainkan elemen pilar dalam konstruksi identitas, imajinasi, dan sejarah peradaban manusia. Melalui penelusuran lintas zaman—mulai dari teks kuno hingga sastra kontemporer—Søren Frank menegaskan bahwa laut adalah cermin dari ambisi, ketakutan, dan filsafat manusia. Poin-poin utama kesimpulannya meliputi: 1. Sastra Komparatif Amfibi: Penulis memperkenalkan metode baru untuk membaca teks sastra yang tidak lagi berpusat pada daratan (terrasentris), melainkan melihat keterikatan antara darat dan laut sebagai satu kesatuan narasi yang cair. 2. Lensa Blue Humanities: Kesimpulan buku ini menekankan pentingnya disiplin ilmu Blue Humanities dan Blue Ecology untuk memahami bagaimana manusia secara puitis membayangkan keterikatan mereka dengan laut, sekaligus merespons tantangan ekologis modern. 3. Rekonstruksi Kanon Sastra: Dengan menggabungkan penulis klasik dunia (seperti Melville dan Conrad) dengan penulis Skandinavia yang kurang dikenal, buku ini menyimpulkan bahwa pengalaman maritim bersifat universal namun memiliki kekayaan nuansa lokal yang mendalam. 4. Materialisme Baru: Laut dipandang sebagai aktor aktif (bukan sekadar latar belakang) yang secara fisik dan material membentuk cara manusia berpikir, menulis, dan bertahan hidup.
No copy data
No other version available