Text
A Political Science Manifesto for the Age of Populism; Challenging Growth, Markets, Inequality and Resentment
Kapitalisme modern, melalui destruksi kreatif, menghasilkan pemenang dan pecundang ekonomi. AS membutuhkan pemikiran politik yang tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga komunitas. Jika kreativitas terus berlanjut - seperti dengan mobil tanpa pengemudi dan pencetakan 3-D - efek sosialnya harus dimitigasi untuk menghindari reaksi balik elektoral ke dalam politik populisme yang tidak demokratis. Judul ini juga tersedia sebagai Akses Terbuka di Cambridge Core. ;;; Buku ini merupakan sebuah "manifesto" atau seruan bagi disiplin ilmu politik untuk melakukan reorientasi radikal dalam menghadapi gelombang populisme global. Penulis menyimpulkan bahwa kegagalan institusi demokrasi arus utama dalam menangani isu ekonomi dan sosial telah menciptakan lahan subur bagi kebencian politik (resentment). Poin-poin utama kesimpulannya meliputi: 1. Kegagalan Paradigma Ekonomi: Penulis menyimpulkan bahwa obsesi pada pertumbuhan ekonomi (PDB) dan pasar bebas telah mengabaikan aspek keadilan distributif, yang memicu ketimpangan ekstrem dan kemarahan publik. 2. Akar Populisme: Populisme tidak dilihat sebagai anomali sesaat, melainkan reaksi logis terhadap janji-janji demokrasi yang tidak terpenuhi. Perasaan "tertinggal" secara ekonomi dan budaya berubah menjadi kebencian terhadap elit. 3. Tantangan bagi Ilmu Politik: Buku ini menantang para ilmuwan politik untuk berhenti bersikap netral dan mulai mengkritik struktur pasar serta ketimpangan secara langsung. Ilmu politik harus kembali menjadi alat untuk memperjuangkan keadilan sosial, bukan sekadar pengamat teknokrasi. 4. Kebutuhan Narasi Baru: Diperlukan narasi politik yang mampu menjawab ketakutan masyarakat tanpa terjebak dalam retorika populis yang memecah belah, dengan cara menata ulang hubungan antara negara, pasar, dan warga negara.
No copy data
No other version available