Text
A Tale of Two Unions; The British Union and the European Union After Brexit
Penelitian ini membedah fenomena Brexit sebagai sebuah krisis ganda yang melibatkan dua entitas politik besar: Uni Eropa dan Persatuan Kerajaan Inggris Raya (the Union). Meskipun memiliki asal-usul sejarah yang berbeda, kedua serikat ini menghadapi perjuangan eksistensial yang serupa dalam mempertahankan "persatuan di tengah keberagaman" seraya menghadapi gelombang populisme dan kritik tajam mengenai defisit demokrasi. Argumen sentral Mark Corner menyatakan bahwa keberlangsungan "empat bangsa" (Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara) sebagai satu negara-bangsa yang utuh sangat bergantung pada kesediaan Inggris untuk mengadopsi struktur politik yang lebih simpatik—mirip dengan model supranasional Eropa yang baru saja mereka tinggalkan. Studi ini menelaah bagaimana ketegangan yang dipicu oleh devolusi internal di Inggris Raya berinteraksi dengan dinamika pasca-Brexit. Ditulis untuk audiens akademis maupun masyarakat umum, karya ini menawarkan analisis mendalam mengenai masa depan kedaulatan Inggris di tengah tarik-menarik antara sentralisme kekuasaan dan tuntutan otonomi daerah yang kian meningkat. ;;; Brexit adalah kisah dua serikat, bukan satu: serikat Inggris dan Eropa. Asal-usulnya berbeda, tetapi keduanya berjuang untuk mempertahankan persatuan dalam keberagaman dan keduanya harus menghadapi tantangan populisme dan klaim defisit demokrasi. Mark Corner menyarankan bahwa "empat negara" yang membentuk Inggris hanya dapat bertahan sebagai bagian dari satu negara-bangsa, jika negara tersebut melihat dengan lebih simpatik struktur-struktur Eropa yang telah dipilihnya untuk melepaskan diri. Studi ini ditujukan untuk audiens akademis dan awam yang tertarik pada situasi Inggris saat ini, terutama ketegangan yang ditimbulkan oleh devolusi dan Brexit.
No copy data
No other version available