Text
Arab Uprisings and Armed Forces; Between Openness and Resistance
Sejak akhir 2010, gelombang protes yang belum pernah terjadi sebelumnya telah melanda sebagian besar dunia Arab. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji peran angkatan bersenjata dalam menghadapi pemberontakan anti-rezim yang menuntut kebebasan politik yang lebih besar atau bahkan perubahan rezim. Berdasarkan kasus Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah, ia berpendapat bahwa tingkat pelembagaan angkatan bersenjata dan hubungannya dengan masyarakat luas dapat menjelaskan tanggapan yang berbeda terhadap pemberontakan pro-reformasi. ;;; Karya ini menganalisis peran strategis angkatan bersenjata selama gelombang protes dan perubahan politik yang dikenal sebagai “Musim Semi Arab” yang melanda Timur Tengah dan Afrika Utara sejak akhir 2010. Di tengah tuntutan kebebasan politik, keadilan sosial, dan pergantian rezim, militer menampilkan beragam respons: mulai dari sikap terbuka dan mendukung aspirasi rakyat, bersikap netral, terpecah secara internal, hingga secara tegas mempertahankan rezim yang berkuasa. Melalui kajian perbandingan kasus Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Yaman, dan Suriah, penelitian ini menjelaskan bahwa perbedaan sikap tersebut sangat ditentukan oleh tingkat kelembagaan militer, hubungan dengan masyarakat, serta posisi dan kepentingan institusi tersebut dalam sistem politik. Hasil kajian menunjukkan bahwa semakin terlembaganya militer dan semakin erat kaitannya dengan warga sipil, semakin besar kecenderungannya untuk mendukung transisi politik. Sebaliknya, militer yang berfungsi sebagai alat kekuasaan rezim cenderung melakukan penindasan. Tulisan ini menyimpulkan bahwa posisi militer menjadi faktor penentu keberhasilan atau kegagalan proses transformasi demokrasi di kawasan tersebut.
No copy data
No other version available