Text
Arabic and its Alternatives; Religious Minorities and their Languages in the Emerging Nation States of the Middle East (1920-1950)
Bahasa Arab dan Alternatifnya membahas hubungan rumit antara bahasa, agama, dan identitas komunal di Timur Tengah pada periode setelah Perang Dunia Pertama, mengambil titik awalnya di komunitas non-Arab dan non-Muslim di wilayah tersebut. Pembaca: Semua yang tertarik dengan sejarah modern dan kontemporer Timur Tengah, minoritas agama dan bahasa, pembentukan identitas dan nasionalisme, serta hubungan antara bahasa dan agama. ;;; Karya ini menelaah hubungan kompleks antara bahasa, agama, dan identitas politik di Timur Tengah selama periode krusial 1920–1950, saat negara-negara modern mulai terbentuk pasca-Kekaisaran Utsmaniyah dan masa mandat kolonial. Di tengah bangkitnya nasionalisme Arab yang menjadikan bahasa Arab sebagai simbol persatuan, kelompok minoritas agama—seperti umat Kristen Suriah, Maronit, Yahudi, dan Armenia—menghadapi pilihan: menerima bahasa Arab sebagai bahasa resmi, atau mempertahankan dan mengembangkan bahasa sendiri seperti Suryani, Ibrani, Prancis, atau Kurdi sebagai penanda jati diri tersendiri. Melalui kajian perbandingan di Irak, Lebanon, Palestina, Suriah, dan Turki, penelitian ini mengungkap bagaimana pemilihan bahasa menjadi sarana negosiasi posisi sosial, keanggotaan komunitas, dan hubungan dengan negara baru. Hasilnya menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medan pertarungan politik dan budaya; keberagaman pilihan bahasa mencerminkan keseimbangan antara keinginan berintegrasi dan menjaga keunikan identitas. Kajian ini memberikan wawasan mendalam tentang akar keragaman linguistik dan dinamika hubungan mayoritas minoritas yang masih terasa hingga masa kini.
No copy data
No other version available