Text
Archaeological Remote Sensing in the 21st Century: (Re)Defining Practice and Theory
Data yang dirasakan dari jarak jauh baik dari platform udara atau luar angkasa sering dimanfaatkan untuk tujuan arkeologi atau warisan budaya yang lebih umum. Namun, terlepas dari perkembangan yang stabil dalam teknologi penginderaan jauh selama tiga dekade terakhir, integrasi sumber data dan metode yang cermat ke dalam praktik arkeologi yang disadari secara teoritis tetap relatif terbelakang. Volume ini berisi sembilan kontribusi yang, masing-masing dengan caranya sendiri, membahas berbagai dislokasi teoretis dan kekurangan praktis dalam penggunaan produk penginderaan jauh dalam praktik arkeologi. Kontribusi ini memberi pembaca bahan pemikiran tentang tantangan ini, dan dengan demikian berkontribusi pada penginderaan jauh arkeologi sebagai bidang interdisipliner yang lebih matang yang dicirikan oleh pendekatan eksplisit, bijaksana, dan terlibat secara teoritis untuk memahami masa lalu. ;;; Karya ini meninjau kembali peran penginderaan jauh dalam arkeologi modern, memperbarui teori dan praktiknya untuk abad ke 21. Membahas teknologi udara dan antariksa—seperti LiDAR, pencitraan multispektral, radar, fotogrametri, dan satelit—serta kemampuannya mendeteksi situs tersembunyi, memetakan lanskap, dan memantau warisan budaya secara luas. Melampaui sekadar visualisasi, kajian ini menguraikan integrasi data, pemodelan SIG, pembelajaran mesin, serta kerangka penafsiran yang menghubungkan hasil teknis dengan pertanyaan arkeologis. Menyikapi tantangan akses data, ketelitian, verifikasi, dan aspek etika, sekaligus mengusulkan standar baru untuk eksplorasi dan pelestarian yang bertanggung jawab. Buku ini menegaskan bahwa penginderaan jauh bukan lagi sekadar alat survei, melainkan bagian inti penalaran arkeologi yang mengubah cara menemukan, mendokumentasikan, dan melindungi warisan budaya dunia.
No copy data
No other version available